Rabu, 12 Maret 2014

MAKALAH METODE PENELITIAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seperti telah disebutkan, kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. Kalau alat pengambil datanya cukup reliable dan valid, datanya juga reliable dan valid. Namun, masih ada satu hal lagi yang harus dipertimbangkan, yaitu kualifikasi si pengambil data. Beberapa alat pengambil data masyarakat memerlukan kualifikasi tertentu pada pihak pengambil data. Misalnya, beberapa test psikologi tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Beberapa alat laboratorium juga menuntun dasar pendidikan dan pengalaman tertentu untuk dipergunakan secara benar. Persyaratan ini harus dipenuhi oleh peneliti, jika tidak, reliabilitas dan validitas yang terkumpul akan terganggu.
Disamping hal tersebut diatas, prosedur yang dituntut oleh setiap metode pengambilan data yang digunakan harus dipenuhi secara tertip. Pada umumnya setiap alat atau metode pengambilan data mempunyai panduan pelaksanaan. Panduan ini harus sejak awal dipahami oleh peneliti. Bila menggunakan jasa orang lain untuk mengumpulkan data, si peneliti harus mempunyai cara untuk memperoleh keyakinan bahwa pengalaman data itu telah dilaksanakan menurut prosedur yang seharusnya.
Apa yang telah dibicarakan diatas ialah seluk beluk pengambilan data primer, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya. Disamping data primer terdapat data sekunder, yang sering kali juga diperlukan oleh peneliti. Data sekunder itu biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, data mengenai produktifitas suatu perguruan tinggi, data persediaan pangan disuatu daerah, dan sebagainya. Mengenai data sekunder ini, peneliti tidak banyak dapat berbuat untuk menjamin mutunya. Dalam banyak hal, peneliti harus menerima menurut apa adanya.
Pengambilan data yang dihimpun langsung oleh peneliti disebut sumber primer, sedangkan apabila melalui tangan kedua disebut sumber sekunder.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pengumpulan data?
2.      Apa saja teknik-teknik dari pengumpulan data ?
3.      Apa saja jenis-jenis dari pengumpulan data ?

C.     Tujuan Penulisan

1.      Ingin mengetahui pengertian tentang pengumpulan data itu sendiri.
2.      Ingin mengetahui teknik-teknik dari pengumpulan data.
3.      Ingin mengetahui jenis-jenis pengumpulan data.

D.    Manfaat Penulisan

1.      Memberi pengetahuan kepada setiap individu, mengenai pengertian pengumpulan data, dan teknik pengumpulan data, jenis-jenis pengumpulan data











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya.
·         Proses Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Data itu dikumpulkan oleh sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Sampel tersebut terdiri atas sekumpulan unit analisis sebagai sasaran penelitian.
Variabel-variabel yang diteliti terdapat pada unit analisis yang bersangkutan dalam sampel penelitian. Data yang dikumpulkan dari setiap variabel ditentukan oleh definisi operasional variabel yang bersangkutan. Definisi operasional itu menunjuk pada dua hal yang penting dalam hubungannya dengan pengumpulan data, yaitu indikator empiris dan pengukuran.[1]
B.     Teknik pengumpulan data
Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu angket, wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan teknik lainnya.
a.       Angket
Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atas angket yang diajukan.

·         Keuntungan dari teknik angket adalah :
1.      Angket dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirim melalui pos.
2.      Biaya yang diperlukan untuk membuat angket relative murah.
3.      Angket tidak terlalu menggangu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri sesuai dengan kesediaan waktunya.
·         Kerugiaan teknik angket :
1.      Jika angket dikirimkan melalui pos, maka presentasi yang dikembalikan relative rendah.
2.      Angket tidak dapat digunakan untuk responden yang kurang bisa membaca dan menulis.
3.      Pertanyaan-pertanyaan dalam angket dapat ditafsirkan salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapat penjelasan.
Pertanyaan-pertanyaan dalam instrument penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.      Pertanyaan terbuka, adalah pertanyaan yang jawabannya tidak disediakan sehingga responden bebas menuliskan jawabannya sendiri.
2.      Pertanyaan tertutup, adalah pertanyaan yang jawabannya sudah disediakan sehingga responden hanya tinggal memilih salah satu jawaban yang sudah disediakan.
Dalam membuat jawaban alternative untuk pertanyaan tertutup atau dalam menggolong-golongkan jawaban yang diberikan pada pertanyaan terbuka perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan berikut :
ü  Penggolongan hanya didasarkan atas satu prinsip atau satu dimensi. Dengan syarat ini adalah untuk menghindari agar seseorang tidak dapat masuk dalam lebih dari satu golongan.
ü  Golongan-golongan yang dibuat harus saling meniadakan, artinya jika seseorang sudah dimasukan kedalam satu golongan, ia tidak dapat dimasukkan kedalam golongan lainnya.
ü  Golongan-golongan yang dibuat harus menyeluruh, artinya tidak seorang pun yang tidak termasuk kedalam salah satu golongan yang dibuat.
Terdapat beberapa pedoman yang harus diperhatikan dalam membuat pertanyaan-pertanyaan untuk instrument penelitian :
·         Pertanyaan atau pernyataan yang dibuat harus jelas dan tidak meragukan.
·         Hindari pernyataan atau pertanyaan ganda.
·         Responden harus mampu menjawab. Agar dapat dipercaya.
·         Pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan harus relevan (berkenaan dengan tujuan penelitian).
·         Pertanyaan atau pernyataan yang pendek adalah terbaik.
·         Hindari pertanyaan, pernyataan atau istilah bias, termasuk tidak menanyakan pertanyaan atau mengajukan pertanyaan yang sugestif (mendorong responden untuk menjawab kearah tertentu).
·         Angket yang dikirimkan harus disertai surat pengantar yang menjelaskan maksud dan tujuan penelitian serta siapa penelitinya. Perlu juga untuk melampirkan sampul pengembalian yang sudah beralamat dan sudah berprangko cukup.
b.      Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam dengan alat perekam.
·         Keuntungan wawancara adalah :
1.      Wawancara dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis.
2.      Jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya.
3.      Wawancara dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak-gerik responden.
·         Kerugian wawancara adalah :
1.      Wawancara memerlukan biaya yang sangat banyak untuk perjalanan dan uang harian pengumpulan data.
2.      Wawancara hanya dapat menjangkau jumlah responden yang lebih kecil.
3.      Kehadiran pewawancara mungkin mengganggu responden.
Daftar pertanyaan untuk wawancara ini disebut sebagai interview schedule. Sedangkan catatan garis besar tentang pokok-pokok yang akan ditanyakan disebut pedoman wawancara (interview guide).
Untuk mendapatkan penerimaan dan kerja sama dengan responden ada beberapa pedoman yang harus diperhatikan :
1.      Penampilan fisik
2.      Sikap dan tingkah laku pewawancara
3.      Identitas
4.      Persiapan
5.      Pewawancara harus bersikap netral dan tidak mengarhkan jawaban atau tanggapan responden.
c.       Observasi
Observasi atau pengamatan kegiatan adalah setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran, pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Observasi juga diartikan sebagai pengalaman dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yan dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki, misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide, atau rangkaian foto.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang melakukan observasi (observer) agar penggunaan teknik ini dapat menghimpun data secara efektif adalah sebagai berikut :
a.       Pemilikan pengetahuan yang cukup mengenai objek yang akan diobservasi.
b.      Pemahaman tujuan umum dan tujuan khusus pada penelitian yag dilaksanakannya.
c.       Penentuan cara dan alat yang dipergunakan dalam mencatat data. Pertimbangan pencatatan langsung ditempat langsung atau setelah observasi haruslah saksama. Demikian juga alat pencatat data, yaitu Anecdotal record,  catatan berskala, check list, rating scale  atau  mechanical devide perlu dipertimbangkan.
d.      Penentuan kategori pendataan gejala yang diamati, apakah dengan mempergunakan skala tertentu sekadar mencatat frekuensi munculnya gejala tanpa klasifikasi tingkatannya sehingga perumusan cirri-ciri setiap kategori dengan tegas dan jelas sangat perlu.
·         Keuntungan oservasi adalah :
1.      Data yang diperoleh adalah data yang segar.
2.      Keabsahan alat ukur dapat diketahui secara langsung.
·         Kerugian observasi adalah :
1.      Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka pengamat harus menunggu dan mengamati sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi.
2.      Beberapa tingkah laku, bahkan bisa membahayakan jika diamati.
Berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam kegiatan-kegiatan orang yang diamati, observasi dapat dibedakan menjadi :
1.      Observasi partisipan (participant observation) ; pengamat ikut  serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti atau yang diamati.
2.      Observasi tak partisipasi (nonparticipant observation) : pengamat berada diluar sujek yang diamati dan tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.
Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan , observasi juga dibedakan menjadi dua bagian :
1.      Observasi tak berstruktur : pengamat tidak membawa catatan tingkah laku apa saja yang harus diamati.
d.      Studi dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada sujek penelitian.
Dokumen dapat dibedakan menjadi dokumen primer (dokumen yang ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa), dan dokumen sekunder (jika peristiwa dilaporkan kepada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang ini) contohnya otobiografi.
·         keuntungan studi dokumentasi adalah :
1.      untuk subjek penelitian yang sukar, studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian.
2.      Tak kreatif, karena studi dokumentasi tidak dilakukan secara langsung dengan orang, maka data yang diperlukan tidak berpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpulan data.
3.      Analisis longitudinal, menjangkau jauh kemasa lalu.
4.      Besar sampel. Dengan dokumen-dokumen yang tersedia, teknik ini memungkin untuk mengambil sampel yang leig besar karena biaya yang diperlukan relative kecil.
·         Kerugian studi dokumentasi adalah :
1.      Bias, karena dokumen yang diuat tidak untuk keperluan penelitian, maka data yang tersedia mungkin bias.
2.      Tersedia  secara selektif. Tidak semua dokumen dipelihara untuk dapat dibaca ulang oleh orang lain.
3.      Tidak lengkap. Karena tujuan penulisan dokumen berbeda dengan tujuan penelitian.
4.      Format yang tidak baku. Sejalan dengan maksud dan tujuan penulisan dokumen yang berbeda dengan tujuan  penelitian, maka formatnya juga dapat bermacam-macam sehingga bisa mempersulit pengumpulan data.
Sebagaimana metode historic, dalam studi dokumentasi perlu dilakukan kritik terhadap sumber data, baik kritik internal maupun kritik eksternal.[2]
C.     Jenis-jenis pengumpulan data
Segala keterangan mengenai variabel yang diteliti disebut data. Data penelitian pada dasarnya dikelompokan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif. Pada kualitatif dinyatakan dalam bentuk kata atau kalimat. Misalnya, data dalam bentuk tingkatan : pandai, sedang, bodoh, kaya sekali, kaya, sedang, miskin sekali. Data kuantitatif dinyatakan dalam bentuk angka. Dalam penelitian, sering kali data kualitatif, terutama dalam bentuk tingkatan, ditransformasikan dalam data kuantitatif dengan memberikan symbol angka secara berjenjang pula, atau dengan menghitung frekuensi secara terpisah satu dengan yang lain. Dengan transformasi seperti itu analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan statistic tertentu. Dibawah ini akan dikemukakan jenis data kuantitatif, baik berasal dari transformasi data kualitatif maupun sejak semula sudah bersifat kuantitatif.
a.       Data skala nonminal
Data skala nonminal ditetapkan berdasarkan proses penggolongan mencakup penempatan objek kedalam kategori-kategori yang mempunyai perbedaan kualitatif bukan berdasar kuantitatif. Dalam ukuran ini, tidak ada asumsi tentang jarak maupun urutan antara kategori dalam ukuran itu. Satu-satunya hubungan yang ada di antara kategori-kategori itu adalah bahwa kategori-kategori yang telah ditetapkan itu mewakili “lebih” atau “kurang”-nya cirri yang ada. Penggolongan mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan, misalnya, merupakan contoh data skala nominal.
Angka yang digunakan pada tingkat nominal ini, hanya dipergunakan untuk mengidentifikasikan bagaimana kedudukan kategori tersebut terhadap kategorinya lainnya. Angka hanyalah sekedar “label”. Sebagai contoh angka satu yang diberikan kepada jenis kelamin perempuan tidak menunjukan bahwa kepandaian perempuan dua kali dari laki-laki. Demikian juga angka atau nomor yang diberikan kepada para pemain sepak bola. Dalam hal ini tidak akan dikatakan bahwa pemain dengan nomor punggung tujuh merupakan pemain yang lebih baik dari pada pemain yang nomor empat. Demikian pula tidak akan bahwa perbedaan kemampuan pemimpin antara nomor dua dan empat. Angka dalam skala nominal sudah tentu tidak dapat diolah secara matematis melalui proses penambahan, pengurangan, perkalian atau pembagian. Orang hanya dapat menggunakan prosedur statistic berdasarkan data perhitungan belaka. Misalnya, melaporkan jumlah hasil pengamatan dalam setiap kategori.
b.      Data Skala Ordinal
Data skala ordinal ialah data yang disusun berdasarkan jenjang dalam atribut tertentu, tanpa menunjukan jarak antara posisi tersebut. Angka yang ditetapkan dalam data skala ordinal hanya menunjukan urutan posisi, tidak lebih dari itu. Baik peredaan ataupun perbandingan antara angka-angka tersebut juga tidak ada artinya. Jika angka 1,2,3, dan seterusnya dipakai dalam pengukuran ordinal, maka tidak ada implikasi bahwa jarak antara urutan 1 dan urutan 2 sama dengan jarak antara urutan 2 dan urutan 3, begitu seterusnya. Jarak antara anak yang menduduki urutan 1 dengan anak yang menduduki urutan 2 isa, lebih pendek, atau lebih jauh dari pada jarak antara anak urutan2 dan urutan 3. Dasar untuk menafsirkan besarnya perbedaan angka-angka itu, tidak ada. Dalam lomba lari yang tak dihitung waktunya, pertama kali, kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak mengetahui berapa perbandingan kecepatan pelari itu satu sama lain. Perbedaan antara pemenang  pertama dan kedua tidak selalu harus sama dengan perebedaan antara pemenang kedua dan ketiga, atau ketiga dan keempat. Juga tidak dapat dikatakan, pelari kedua, dua kali lebih cepat dari pada pelari keempat. Hitungan tambah, kurang, kali, dan bagi tidak dapat digunakan pada data skala ordinal. Statistic yang sesuai bagi skala ordinal adalah terbatas. Karena besar jarak, interval antara kategori-kategori tidak diketahui. Statistic, cocok untuk skala ordinal.
a.       Data skala interval
Data skala interval adalah data yang memberi jarak interval yang sama dari suatu titik asal yang tidak tetap. Data ini tidak semata-mata mengurutkan orang atau objek berdasarkan suatu atribut, tetapi juga memberikan informasi tentang interval antara satu orang atau objek dengan orang atau objek lainnya. Tetapi data lain ini tidak memberikan informasi tentang jumlah absolute atribut yang dimiliki seseorang karena tidak memiliki titik tolak mutlak. Titik nol pada test psikologi atau test pendidikan tidak ada patokannya. Sebagai contoh, tidak ada angka kecerdasan nol; tidak ada suatu cara pun dalam test kecerdasan baku yang dapat dipakai untuk menetapkan bahwa seseorang mempunyai tingkat kecerdasan nol. Kalau ada tiga orang mahasiswa memperoleh skor 15, 30, dan 45 dalam ujian statistic, tidak dapat dikatakan ahwa mahasiswa yang memperoleh skor 30 mempunyai pengetahuan statistic dua kali lipat dari mahasiswa yang mendapat nilai 15. Untuk memahami hal itu, dapat dijelaskan sebagai berikut. Andai kata dosen statistic tersebut menambah lima belas soal yang sangat mudah, dan ketiga skor itu kini berubah menjadi 30, 45, dan 60. Kemudian dibuat perbandingan skor pada skala interval ini, maka akan terjadi kekeliruan laporan bahwa mahasiswa yang memperoleh niali 60 mempunyai pengetahuan statistic dua kali lipat dari pada mahasiswa yang memperoleh nilai 30. Dalam perbandingan sebelumnya dianggap bahwa mahasiswa yang bersangkutan mempunyai pengetahuan statistic tiga kali lipat dari pada mahasiswa yang lainnya itu. Meskipun demikian, data skala interval merupakan nilai kuantitatif yang paling banyak digunakan, karena ia memiliki jarak yang sama antara dua nilai yang terdekat. Disamping itu, sebagian besar teknik perhitungan statistic dikembangkan dengan menggunakan data ini.
a.       Data Sakal Ration
Data sakala ratio adalah skala yang memiliki titik nol sejati, sehingga bilamana suatu gejala dinyatakan nol berarti gejala itu sama sekali tidak ada. Disamping itu, data ini mempunyai jarak dalam bentuk satuan yang sama, sehingga gejala-gejala dimaksudkan dapat dinyatakan, dan dibandingkan secara pasti. Misalnya, seseorang dapat memberi arti bahwa berat barang 4 kg adalah dua kali lipat berat dan barang yang beratnya 2 kg. demikian pula jarak 4 cm adalah setengah dari jarak 8 cm dan seterusnya.

BAB III
KESIMPULAN
A.    Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya.
B.     Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu :
1.      Angket
2.      Wawancara
3.      Observasi
4.      Studi dokumentasi, dan teknik lainnya.
C.     Jenis- jenis pengumpulan data
1.      Data skala nonminal
2.      Data skala ordinal
3.      Data skala interval
4.      Data skala rotation








DAFTAR PUSTAKA





2 komentar:

  1. Menarik.
    Silakan berkunjung ke situs ini ya
    http://statistika.tanpastress.com/

    BalasHapus
  2. Menarik.
    Silakan berkunjung ke situs ini ya
    http://statistika.tanpastress.com/

    BalasHapus